Top News



Pati (11/11/2018) setelah empat tahun berdirinya jurusan PGMI di IPMAFA, Himpunan Mahasiswa Program Studi PGMI sukses mengadakan acara sarasehan dan ngolah pikir (NGOPI) bareng bolo PGMI untuk pertama kalinya. Kegiatan sarasehan bertemakan “Kenali, Fahami, dan Cintai PGMI” ini bertempat di Auditorium II lantai 2 dan Hutan sengon Kampus Institut Pesantren Mathaliul Falah. Kegiatan ini bertujuan membangun keakraban antar mahasiswa Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyyah (PGMI) lintas semester.

Sarasehan diadakan dari pukul 08.00 hingga 16.45 WIB dengan dihadiri mahasiswa program studi PGMI dari semester 1 hingga semester 7. Acara dibuka dengan sambutan dari ketua panitia juga sambutan dari sekretaris Prodi Bapak Agus Jauhari Lc MPd dilanjutkan workshop bertema “Melahirkan Pendidikan Madrasah Yang Manusiawi dan Bahagia” yang diisi oleh Drs Abu Choir MA selaku Direktur MI Alam Alfa Kids Pati juga selaku Sekretaris RMI NU Jawa Tengah.

Abu Choir memaparkan terkait pendidikan di dunia ini dianggap tidak berhasil dan perlu rekonstruksi ulang. Hal ini terjadi karena adanya kesenjangan antara belahan bumi utara dan selatan. Di Utara dapat menikmati berbagai kemewahan material, ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih. Namun berbalik di bumi sebelah selatan yang mengalami kemiskinan dan ketertinggalan. Hal ini telah menimbulkan ketidakadilan karena pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Namun dari kondisi pendidikan sekarang ini tampak hanya sebagai proses meraih prestasi akademik dan mengesampingkan perkembangan manusia.

Padahal ketidakadilan adalah salah satu persoalan yang harus diselesaikan manusia yang dapat berpartisipasi penuh dalam dunia sosial. Di sinilah pendidikan humanism yang dapat menyiapkan generasi yang siap menghadapi kesenjangan sosial di masyarakatnya nanti.

Beliau berpesan agar kita sebagai calon pendidik harus belajar menjadi pendidik yang tidak hanya mengutamakan potensi akademik siswa saja, namun juga harus meningkatkan sisi kemanusiaan.

Seusai istirahat, sholat dhuhur dan makan siang dilanjutkan dengan kegiatan  outbond yang bertempat di Kebun Sengon Kampus IPMAFA. Panitia menyediakan banyak sekali permainan seru hingga para mahasiswa larut dalam keseruan permainan tersebut. Acara terakhir ditutup dengan penyerahan hadiah dan nonton video bareng yang sebelumnya antar kelas membuat video kebersamaan di kelas masing-masing.










Prodi PGMI Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) baru-baru ini menerjunkan mahasiswanya untuk magang di dunia industri (23/4/18). Tujuannya untuk melatih mahasiswa terjun dan merasakan langsung pengalaman berwirausaha.

Magang pada dunia industri ini adalah salah satu tugas lapangan yang terintegrasi dengan mata kuliah Edupreneurship I yang ada di Prodi PGMI IPMAFA. Setelah mahasiswa belajar tentang teori-teori kewirausahaan di kelas, mereka ditugaskan turun ke lapangan seperti magang pada beberapa home industry sekitar Pati.

Pemilihan lokasi industri diberikan pada mahasiswa berdasarkan minat dan kecenderungan mereka dengan melalui verifikasi kelayakannya. Beberapa usaha yang menjadi sasaran mahasiswa adalah usaha bandeng presto, batik, produk kerajinan tangan bross dan gantungan kunci, produk makanan ringan, dan usaha peternakan sapi. Dalam pelaksanaannya, Prodi memberi waktu 2 minggu kepada mereka dalam menjalankan tugas beserta proses penyusunan laporan.

Selama magang di dunia industri ini mahasiswa belajar dari awal bagaimana usaha tersebut didirikan, mengalami jatuh bangun dan bagaimana mempertahankan usaha agar tetap survive di tengah pasar yang semakin kompetitif.

Selain itu, dengan berbagai metode baik observasi maupun wawancara, mahasiswa mempelajari bagaimana usaha dijalankan meliputi proses perencanaan, produksi, maupun pemasarannya. Mahasiswa juga ikut terlibat langsung di lokasi usaha. Setelah itu mahasiswa harus memberikan kritik dan saran berdasarkan teori-teori kewirausahaan yang telah mereka pelajari.

Disampaikan oleh Kaprodi PGMI Inayatul Ulya MSI bahwa kegiatan magang pada dunia industri ini adalah salah satu ikhtiar Prodi PGMI IPMAFA untuk mengintegrasikan kewirausahaan dalam kurikulum pendidikan.

Kami berharap, skill berwirausaha ini menjadi nilai plus lulusan Prodi PGMI. Selain dipersiapkan untuk menjadi guru MI yang profesional juga memiliki keterampilan lain sebagai entrepreneur. Semoga kegiatan ini menjadi pengalaman berharga, tidak sekedar pemenuhan tugas kuliah, tapi menjadi pengalaman yang bermanfaat untuk kehidupan mahasiswa kedepan sehingga tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang tangguh, tahan banting, siap berkompetisi dalam kehidupan dan menjadi pribadi yg sukses dan sejahtera.” , tegasnya.






 

HMPS PGMI (Himpunan Mahasiswa Program Studi) menggelar bedah buku “Pendidikan Sensitif Gender: Internalisasi Karakter Sensitif Gender dalam Kurikulum Pendidikan” karya Inayatul Ulya MSI, Senin (23/4/2018). Acara diikuti oleh mahasiswa, dosen serta peserta dari luar yang mempunyai minat pada isu-isu kesetaraan gender.

Pada kesempatan itu, penulis buku yang akrab disapa Ibu Ina itu menyampaikan bahwa kesetaraan gender dalam bidang pendidikan adalah sesuatu yang harus diperjuangkan karena pendidikan adalah hak setiap orang. Laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati layanan pendidikan. Rendahnya pendidikan perempuan dapat berakibat pada terjadinya kekerasan terhadap perempuan, mulai dari kekerasan fisik, psikis maupun kekerasan seksual yang dilakukan oleh laki-laki kepada perempuan.

Berbagai ketidakadilan gender yang muncul di berbagai sektor dalam bentuk marginalisasi, subordinasi, stereotip, double burden serta kekerasan terhadap perempuan mengundang komitmen berbagai pihak untuk mengubah relasi gender yang lebih adil dan setara.


Diantara jalur untuk mencapai kesetaraan gender adalah jalur pendidikan karena dipandang sebagai sarana paling strategis dalam mentransformasikan nilai budaya yang berkembang di masyarakat. Diantara cara yang dapat ditempuh adalah upaya mewujudkan kesempatan pendidikan yang lebih luas pada semua jalur jenis dan jenjang pendidikan dengan memperhatikan kesetaraan gender, memacu peningkatan kualitas pendidikan melalui pemberdayaan potensi perempuan secara optimal, baik dalam posisinya sebagai pengembang kurikulum, pengelola pendidikan,pelaksana pendidikan maupun sebagai peserta didik. 

Selain itu Pendidikan juga harus mampu membentuk karakter peserta didiknya untuk sensitif gender karena bagaimanapun pendidikan dapat menjadi media yang strategis untuk menanamkan nilai-nilai kesetaraan gender.

Sebagai pembanding dalam bedah buku, hadir aktivis gender kepesantrenan Dr Jamal Makmur Asmani yang melihat kesetaraan gender dengan pendekatan agama. Dr Jamal menyampaikan bahwa meskipun Islam lahir di Arab yang kental dengan budaya patriarki, Nabi memposisikan diri sebagai pejuang kesetaraan dan keadilan gender, khususnya bagi perempuan. Ajaran yang dibawa Nabi melarang mengubur bayi perempuan, memberikan hak waris, mewajibkan mahar dan minta ijin pada wali ketika ingin menikahi perempuan, tidak mengucilkan perempuan ketika sedang haid, dan memberikan kesempatan menuntut ilmu  yang sama baik laki-laki maupun perempuan.

Dengan adanya bedah buku ini diharapkan dapat menjadi motivasi dan mental masyarakat yang sensitif gender sehingga pada akhirnya menuju pada keadilan dan kesetaraan gender.

HMPS PGMI (Himpunan Mahasiswa Program Studi) menggelar bedah buku “Pendidikan Sensitif Gender: Internalisasi Karakter Sensitif Gender dalam Kurikulum Pendidikan” karya Inayatul Ulya MSI, Senin (23/4/2018). Acara diikuti oleh mahasiswa, dosen serta peserta dari luar yang mempunyai minat pada isu-isu kesetaraan gender.

Pada kesempatan itu, penulis buku yang akrab disapa Ibu Ina itu menyampaikan bahwa kesetaraan gender dalam bidang pendidikan adalah sesuatu yang harus diperjuangkan karena pendidikan adalah hak setiap orang. Laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati layanan pendidikan.

Meski demikian, di lapangan muncul sejumlah fenomena bahwa pendidikan sekolah belum mampu menghapus stereotip gender seperti dalam hal materi ajar yang banyak menunjukkan kekentalan perbedaan gender. Buku-buku teks pelajaran di Sekolah Dasar menggambarkan kegiatan ibu dan bapak secara berbeda. Ibu sering digambarkan memiliki peran domestik saja seperti memasak, mengasuh anak dan membersihkan rumah. Sedangkan bapak digambarkan memiliki peran publik yg lebih dominan misalnya bekerja mencari nafkah, pergi ke kantor dsb.

Begitu juga dalam hal permainan. Permainan anak laki-laki digambarkan dengan gambaran fisik yang aktif seperti bermain mobil-mobilan, sementara perempuan digambarkan pada aktivitas yang cenderung lebih pasif seperti bermain boneka.

Menurut Ina, materi pendidikan semacam itu merupakan perluasan stereotip gender yang dapat berimplikasi pada pembakuan peran sosial laki-laki dan perempuan. Imbas dari hal tersebut berpengaruh pada jurusan pendidikan yang dianggap pantas bagi perempuan adalah yang bersifat melayani orang seperti keperawatan, sekretaris dsb. Sedangkan jurusan yang dianggap pantas bagi laki-laki adalah jurusan yang mampu bersaing dalam pasar kerja.

Berdasarkan data di BPS beberapa tahun terakhir menunjukkan gap tingkat partisipasi perempuan dan laki-laki dalam pendidikan khususnya ketika sudah masuk pada level perguruan tinggi. Sehingga rendahnya pendidikan pada perempuan akan menjadikan perempuan tertinggal dalam segala hal. Beban yg lebih berat juga akan dialami perempuan dikarenakan ketidakmampuannya memiliki keterampilan yang lebih baik. Hal ini berimbas pada sedikitnya pilihan pekerjaan yang dapat dilakukan perempuan.

Sebagai pembanding dalam bedah buku, hadir aktivis gender kepesantrenan Dr Jamal Makmur Asmani yang melihat kesetaraan gender dengan pendekatan agama. Dr Jamal menyampaikan bahwa meskipun Islam lahir di Arab yang kental dengan budaya patriarki, Nabi memposisikan diri sebagai pejuang kesetaraan dan keadilan gender, khususnya bagi perempuan. Ajaran yang dibawa Nabi melarang mengubur bayi perempuan, memberikan hak waris, mewajibkan mahar dan minta ijin pada wali ketika ingin menikahi perempuan, tidak mengucilkan perempuan ketika sedang haid, dan memberikan kesempatan menuntut ilmu  yang sama baik laki-laki maupun perempuan.

Dengan adanya bedah buku ini diharapkan dapat menjadi motivasi dan mental masyarakat yang sensitif gender sehingga pada akhirnya menuju pada keadilan dan kesetaraan gender.


Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Fakultas Tarbiyah Institut Pesantren Mathaliul Falah (IPMAFA) bekerja sama dengan Racana Syekh Ahmad Mutamakin – Nyi Ageng Serang menyelenggarakan Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar (KMD) tahun 2017 pada senin (11/12) sampai sabtu (16/12) di kampus IPMAFA Pati. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari implementasi kurikulum Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) yang digagas oleh Prodi PGMI sebagaimana amanat dalam Perpres No. 08 Tahun 2012 tentang upaya melakukan kualifikasi terhadap lulusan perguruan tinggi, yakni sebagai pendamping ijazah PGMI berupa kompetensi dan skill pendukung.

KMD pertama yang diselenggarakan di kampus IPMAFA ini terasa istimewanya saat pembukaan dengan kehadiran Ketua Kwartir Daerah Jawa Tengah, kak S. Budi Prayitno didampingi Ketua Kwartir Cabang pati, Kak Sugiono, serta Kamabigus yang diwakili Kak Ahmad Dimyati. “Gerakan Pramuka membuat kita belajar secara tidak sadar karena diiringi dengan bermain dan keceriaan. Aktivitas yang dilakukan di Pramuka secara tidak sadar telah memberikan pelajaran tentang banyak hal”, ucap Kak Budi, yang juga Guru Besar UNDIP Semarang.

Kak Dimyati dalam sambutannya mewakili Kamabigus memberikan apresiasi yang tinggi kepada Racana yang baru satu tahun terbentuk di kampus IPMAFA. “silakan tunjukkan aktivitas dan eksistensi dulu, setelah itu pihak kampus pasti akan mendukung”, demikian disampaikan Kak Dim yang menjabat Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ketika ditemui beberapa mahasiswa yang ingin mendirikan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Racana. Hasilnya di luar dugaan karena dalam waktu yang singkat Racana IPMAFA telah mendapat nama pangkalan yaitu Syekh Ahmad Mutamakin dan Nyi Ageng Serang serta mampu menggelar KMD.

Peserta KMD bukan hanya berasal dari mahasiswa IPMAFA tetapi juga dari pembina pramuka di sekolah bahkan mahasiswa dari kampus lain. Selama 6 hari mengikuti KMD, para peserta diberikan banyak materi kepramukaan mulai dari teori kepramukaan, baris berbaris hingga praktik pembuatan tenda dan penyelenggaraan api unggun. Kwartir Cabang Pati menerjunkan pelatih pramuka yang kompeten dan profesional untuk mengawal dan mendidik peserta KMD hingga tuntas.

Sebagian besar peserta KMD merupakan mahasiswa Prodi PGMI yang sejak awal penyusunan kurikulum telah mensyaratkan sertifikat KMD sebagai Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI) sesuai kurikulum KKNI. “Sertifikat KMD menjadi bukti mahasiswa PGMI IPMAFA memiliki kompetensi lain sebagai modal saat lulus kuliah, selain kompetensi utama sebagai guru kelas MI tentunya”, ucap Ketua Prodi PGMI Inayatul Ulya.

Ke depannya, peserta KMD diharapkan meneruskan aktivitas di gerakan Pramuka dan mengikuti berbagai kegiatan berjenjang hingga tingkat nasional bahkan internasional. Pasca kegiatan ini, peserta KMD memiliki legalitas untuk menjadi pembina pramuka di sekolah atau madrasah. Pihak Kwarcab juga siap membantu mencarikan pangkalan atau bekerja sama dalam berbagai kegiatan kepramukaan sehingga pramuka selalu diminati oleh peserta didik di sekolah atau madrasah.